Luwu Utara — Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, saat ini masih relatif stabil di kisaran Rp2.500 hingga Rp2.600 per kilogram. Kondisi tersebut mulai memberi harapan baru bagi para petani di wilayah tersebut.
Meskipun harga sawit di Luwu Utara masih berada di bawah harga di daerah sentra produksi seperti Sumatra dan Kalimantan, namun bagi petani setempat harga tersebut dinilai cukup baik dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Beberapa tahun lalu, harga sawit di wilayah ini bahkan sempat berada di kisaran Rp1.500 per kilogram. Kenaikan harga tersebut membuat semakin banyak masyarakat mulai melirik sektor perkebunan kelapa sawit sebagai salah satu sumber penghasilan yang menjanjikan.
Salah satu petani sawit di Kecamatan Mappedeceng, Marzuki, mengatakan bahwa saat ini banyak petani yang mulai beralih menanam kelapa sawit. Selain dinilai memiliki prospek ekonomi yang cukup baik, perawatan tanaman sawit juga relatif lebih mudah dibandingkan beberapa komoditas lainnya.
“Untuk saat ini sangat banyak petani yang beralih menjadi petani sawit karena pemeliharaannya yang tidak terlalu sulit dan hasilnya cukup menjanjikan,” ujarnya.
Namun demikian, Marzuki juga mengingatkan agar pembukaan lahan baru untuk perkebunan sawit tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Menurutnya, jika tidak dikelola dengan baik, pembukaan lahan secara besar-besaran berpotensi merusak ekosistem alam.
“Hanya saja saat ini banyak pembukaan lahan baru yang bisa saja merusak ekosistem alam jika tidak dikendalikan,” tambahnya.
Para petani berharap harga sawit di Luwu Utara dapat terus stabil bahkan meningkat. Dengan harga yang baik, sektor perkebunan sawit diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat, khususnya bagi mereka yang menggantungkan hidup pada sektor perkebunan.
(Fannisya)







